Home > Politik Indonesia > Menapak Pemilu Presiden 2009 ( Megawati Soekarnoputri )

Menapak Pemilu Presiden 2009 ( Megawati Soekarnoputri )

megawatiMegawati Soekarnoputri

Nama :
Dr (HC) Hj. Megawati Soekarnoputri
Nama Lengkap :
Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri
Lahir :
Yogyakarta, 23 Januari 1947
Agama :
Islam
Suami :
Taufik Kiemas
Anak:
3 orang, (2 putra, 1 putri)

Karir :
:: Presiden Ke-5 RI (2001 – 2004)
:: Wakil Presiden RI (1999- 2001)
:: Anggota DPR/MPR RI (1999)
:: Anggota DPR/MPR RI (1987-1992)
Organisasi :
:: Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, April 2000-2005 dan 2005-2009

Megawati Lebih Siap

Oleh Ch Robin Simanullang

Mantan Presiden Megawati tampaknya sudah jauh lebih siap untuk tampil kembali di puncak kekuasaan sebagai Presiden 2009-2014. Bukan hanya karena pendeklarasian pencapresannya yang sudah sejak awal, tetapi lebih lagi dari semakin membaiknya perfomancenya setelah melakukan introspeksi.

Kini, Megawati Soekarnoputri tidak lagi hanya seorang ibu (perempuan) yang pendiam. Dia seorang mantan Presiden. Seorang politisi yang memimpin partai nasionalis besar
yang bergerak dewasa dengan segala dinamikanya. Dia pemimpin partai yang paling ber-pengaruh dan berkuasa saat ini. Kematangannya sudah mencapai puncak percaturan politik. Obsesi politik pengabdiannya sudah mencapai ubun-ubun: Menjadi Pemenang!
Pengalaman dikhianati dan dipecundangi pembantu dekatnya, baik di partai (PDIP) maupun di kabinet (Gotong Royong), terutama SBY-JK (termasuk Kwik) sebagai Menko Polkam, Menko Kesra dan Menko Perekonomian yang diberi kewenangan banyak termasuk berbicara banyak, tampaknya telah menjadi guru yang baik baginya. Ini adalah area politik pengabdian! Di medan area ini, ketulusan sangat penting, tapi ternyata tidak cukup.
Kesiapannya untuk kembali dalam kancah percaturan politik menggapai kursi Presiden RI 2009-2014, menunjukkan obsesinya menjadi pemenang. Dia tidak mau menjadi pecundang, karena kalah lalu berdiam diri. Dia melihat jawaban dari kekalahannya untuk menjadi pemenang. Seorang pemenang selalu melihat jawaban dari seriap masalah. Sedangkan seorang pecundang selalu melihat masalah dari setiap jawaban. Kini, Megawati, tampaknya sudah lebih siap jadi pemenang.
Salah satu sarana penting untuk menjadi pemenang adalah menguasai informasi. Dalam era ini, siapa yang menguasai informasi dia akan menjadi pemenang. Barangkali, hal ini yang masih mutlak dicatat tim Megawati (PDIP). Walaupun PDIP sudah menyatakan akan menjaring Cawapres melalui polling atau survei sebagai pertanda membaiknya pandangan mereka tentang pentingnya menguasai informasi, tapi secara keseluruhan masih jauh tertinggal dibanding SBY-JK (PD-PG), bahkan dibanding PKS, PAN dan Partai Hanura.
Lihat saja kepiawian SBY menguasai dan mengelola informasi. Mulai dari kepiawaiannya mengolah kata dalam berbicara dan berpidato. Sering memberi keterangan pers, tanpa mengandalkan (nyaris tak memberi kesempatan) para menterinya, nyaris juga tanpa batasan tempat dan waktu, mulai di istana sampai ke gudang pabrik estasi. Tak cukup dengan itu, dia pun mengangakat beberapa orang juru bicara, menerbitkan koran, majalah, tabloid dan portal berita. Ditambah kedekatannya dengan lembaga survei tertentu dan para pengamat profesional. Semua kekuatan informasi itu bermuara pada pencitraan, popularitas.
Sangat keliru, jika pencitraan dan popularitas selalu dipandang negatif. Memang, pencitraan dan popularitas bukanlah tujuan, melainkan sebuah cara dan sarana untuk mencapai tujuan. Visi besar seorang tokoh akan mudah dipahami dan diterima publik jika citra dan popularitas si pemilik visi dikenal publik. Dalam kaitan ini, seorang pemimpin yang baik harus mampu meyakinkan publik untuk mengikuti dan melaksanakan visi besarnya. Dengan demikian, visi dan kepentingan pemimpin menyatu (dijadikan) dengan kepentingan publik.
Informasi sangat berpengaruh, terutama dalam peta persaingan Capres 2009 yang semakin ketat. Ketatnya persaingan, antara lain terilhat dari berbagai hasil survei menunjukkan makin terpolarisasinya para kandidat seiring dengan mulai membaiknya perfomance beberapa kandidat.
Beberapa hasil survei menunjukkan posisi dan popularitas SBY masih lebih tinggi dibanding sejumlah nama kandidat lainnya, termasuk Megawati yang berada di urutan kedua. Namun ada trend popularitas SBY terus menurun sementara popularitas Megawati terus menaik. Diperkirakan popularitas SBY akan terus mengalami penurunan. Bahkan, pengamat politik, Indra J Piliang mengatakan, bukan tidak mungkin akan terjadi titik kesetimbangan kekuatan antara SBY, Megawati dan Sri Sultan HB X.
Bahkan hasil survei terbaru Lembaga Survei Nasional (LSN) yang dilaksanakan 2-14 Mei 2008 di 33 provinsi dengan menggunakan teknik multistage random sampling 1.225 orang, margin of error 2,8%, dan tingkat kepercayaan 95%, menyebutkan, popularitas Megawati, untuk pertama kalinya sejak empat tahun terakhir, berhasil mengungguli popularitas SBY.
Kepala Divisi Riset LSN, Taufik Hidayat mengatakan jika pemilihan presiden (Pilpres) dilaksanakan saat ini, Megawati akan memperoleh dukungan sedikit lebih tinggi dari SBY (Megawati 16,7 persen dan SBY 16,4 persen). Namun, survei ini menunjukkan persaingan semakin ketat. Sebab, meskipun popularitas Megawati tertinggi dibanding tokoh nasional lainnya, namun tingkat dukungan kepadanya mengalami penurunan dibanding Januari 2008. Megawati saat itu mendapat dukungan sebesar 18 persen, SBY 25,2 persen.
Dengan hasil survei ini, Taufik menyatakan patut meragukan obyektivitas lembaga riset lainnya yang hasil surveinya masih menempatkan SBY di posisi puncak, apalagi dengan tingkat dukungan di atas 30%. “Januari saja, pemilih SBY hanya 25%. Maka, sangat tidak masuk akal jika setelah kenaikan harga BBM yang kontroversial itu tingkat dukungan kepada SBY malah naik menjadi di atas 30%,” kata Taufik.
Direktur Indo Barometer, Muhammad Qodari, juga melihat kebijakan menaikkan harga BBM jelas akan mengurangi popularitas SBY. Hasil survei Indo Barometer menunjukkan popularitas SBY turun sekitar empat persen saat SBY pertama kali mengumumkan akan menaikkan harga BBM. Qodari memperkirakan popularitas SBY pasti turun lagi setelah harga BBM benar-benar dinaikkan.
Menurunya dukungan kepada SBY, bahkan juga Megawati, juga dipengaruhi semakin membaiknya performance kandidat lainnya. Terlihat dari urutan tingkat dukungan terhadap para kandidat Presiden 2009-2014 jika Pilpres dilaksanakan Mei 2008, hasil survei LSN sebagai berikut: Megawati (16,7%), SBY (16,4%), Sri Sultan HB X (6,9%), Hidayat Nur Wahid (5,8%), Wiranto (5,1%), JK (4,1%), Amien Rais (3,7%), Abdurahman Wahid (3,4%), Sutiyoso (1,7%), Akbar Tandjung (1,4%), dan tokoh-tokoh lain (3,5%), serta mereka yang mengatakan rahasia atau belum memutuskan pilihan (swing voters) sebesar 31,3%.

Siapa Cawapres
Kemungkinan kemenangan Megawati pada Pilpres 2009 nanti juga sangat dipengaruhi ketepatan pilihan siapa Cawapres pendampingnya. Hal ini tampaknya sangat disadari oleh Megawati dan PDIP. Pengalaman Pilpres 2004, saat Cawapresnya sangat kurang memberi tambahan suara signifikan, tampaknya telah menjadi pelajaran berharga.
Maka untuk menjaring figur Cawapres pendamping Megawati, PDI-P tidak mau gegabah. Partai ini membuka kesempatan bagi para tokoh di luar PDI-P untuk menjadi Cawapres. Boleh diusulkan melalui pengurus ranting. Selain penjaringan melalui mekanisme partai, juka diselenggarakan melalui beberapa kali survei untuk mengetahui tingkat dukungan publik terhadap Cawapres yang akan mendampingi Megawati.
Sejauh ini, menurut Sekretaris Jenderal DPP PDI-P Pramono Anung, pihaknya telah menjaring 17 nama. Awalnya PDI-P mendapat masukan untuk menilai 88 orang, kemidian mengerucut menjadi 14 orang. Belakangan ada tambahan tiga orang lagi sehingga menjadi 17 orang. Nama-nama ke-17 orang itu telah dikomunikasikan dengan Megawati.
Belakangan, setelah tiga kali melakukan survei internal (sampai Meu 2008), ada beberapa nama yang kerap menempati posisi lima teratas. Berdasar isyarat (tidak secara eksplisit menyebutkan nama) yang diberikan Sekjen PDI-P Pramono Anung seusai Diskusi Dialektika Demokrasi di Ruang Wartawan DPR, Jumat (20/6/2008), kelima nama tokoh itu asalah Sultan Hamengku Buwono X, Hidayat Nur Wahid, Wiranto, Akbar Tandjung, dan Jusuf Kalla.
Menurut Pramono, kemudian sampai November, masih akan dilakukan dua survei lagi untuk menentukan siapa calon yang layak. Hasil survei akan dilaporkan pada rapat kerja nasional PDI-P di Solo, November, setelah lebih dulu dipublikasikan kepada publik. “Semua peserta Rakernas akan ikut memutuskan siapa calon yang layak mendampingi Ibu Mega. Jadi, bukan diputuskan sendiri oleh DPP. Selanjutnya peserta Rakernas harus ikut memenangkan Ibu Mega dan calon pendampingnya dalam Pilpres 2009,” ujar Pramono.
Sementara itu, berdasarkan hasil survei LSN yang dilakukan pada Januari dan Mei 2008 sebagaimana diungkapkan Direktur LSN Umar Bakry (30/5/2008), menunjukkan enam nama Cawapres paling ideal untuk mendampingi Megawati, yaitu Wiranto (45,6 persen), Sri Sultan Hamengku Buwono X (45,6 persen), dan Prabowo Subianto (41 persen), Akbar Tandjung (37,4 persen ), Sutiyoso (37 persen) dan Hidayat Nur Wahid (36,6 persen).
Sedangkan hasil survei Lembaga Riset Indonesia (LRI) yang dilakukan pada pertengahan Mei 2008 memprediksi keterpilihan pasangan Megawati-Sultan HB X (14,74 persen) jauh di atas kombinasi Yudhoyono-Sultan HB X (6,14 persen). Hasil survei lain juga menunjukkan nama dan angka-angka yang beragam.
Di samping itu, sejumlah nama yang juga disebut-sebut pantas menjadi Cawapres pasangan Megawati adalah Din Syamsuddin, Sutrisno Bachir, Suryadharma Ali, Fadel Muhammad, Gamawan Fauzi, Anas Urbaningrum, Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Agung Laksono, Syaykh Panji Gumilang dan Sri Mulyani Indrawati.
Selain pengaruh figur, penetapan Cawapres juga ditentukan koalisi antarpartai. Hampir dipastikan dengan sistim multi partai dan dalam kondisi saat ini, tidak akan ada menjadi partai yang mendapat suara mayoritas (single majority). Jadi untuk mengusung pasangan Capres-Cawapres partai-partai akan berkoalisi. Tak terkecuali PDI-P, walaupun partai ini diprediksi akan tampil kemabali sebagai pemenang Pemilu legislatif, menyalip Partai Golkar yang diprediksi akan surut ke nomor dua atau tiga.
Jika PDI-P berkoalisi dengan Partai Golkar, kemungkinan Cawapres adalah Jusuf Kalla. Walaupun pilihan terbaik bagi PDI-P adalah Sri Sultan HBX atau Akbar Tandjung. Kemungkinan lain adalah Aburizal Bakrie, Surya Paloh, atau Prabowo Subiyanto.
Jika PDI-P berkoalisi dengan PKS kemungkinan Cawapres adalah Hidayat Nurwahid atau Tifatul Sembiring. Jika denngan PAN, kemungkinan Cawapres adalah Sutrisno Bachir atau Hatta Rajasa. Tapi jika dengan PPP, kemungkinan Cawapres adalah Suryadharma Ali atau Bactiar Chamsah. Berkoalisi dengan Partai Hanura, jika partai ini mendapat suara signifikan 5% saja, kemungkinan Wiranto bisa jadi Cawapres.
Dari beberapa kemungkinan itu, ada info teranyar, sebagaimana dikemukakan Presiden PKS Tifatul Sembiring dalam sebuah diskusi publik PKS dan Kepemimpinan Kaum Muda di Jakarta (19/6/2008), dari beberapa studi terakhir menemukan koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi kekuatan paling ideal dalam membangun pemerintahan.
Walaupun harus dipahami, menjalin koalisi partai tidak semudah memilih figur (perorangan). Kesepahaman koalisi partai harus melalui mekanisme partai, yang tentu linear dengan visi-misi partai. Dan, jika koalisi berdasar dukungan partai yang dijadikan patokan, tidak mudah bagi PDI-P (juga partai lain) menentukan siapa Cawapres sebelum Pemilu legisliatif.
Partai Golkar dan PKS kemungkinan tidak bersedia jadi Cawapres jika meraih suara lebih besar dari PDI-P pada Pemilu legislatif. Begitu juga partai-partai lainnya. Maka Jusuf Kalla atau Hidayat Nur Wahid tidak mudah menerima pinangan Megawati menjadi Cawapres sebelum Pemilu legislatif.
Sehingga walaupun PDI-P telah mengemukakan keinginan mengumumkan Cawapres setelah November 2008, bisa saja hal itu urung dilakukan, sampai menunggu hasil Pemilu legislatif.
Atau siapa tahu kejutan mungkin bisa terjadi, jika Megawati menyatakan mengurungkan niat menjadi Capres dengan mengajukan Capres-Cawapres alternatif, seperti Puan Maharani – Hidayat Nurwahid atau sebaliknya Hidayat Nurwahid – Puan Maharani. Atau malah mengajukan Pramono Anung – Sri Mulyani Indrawati atau sebaliknya Sri Mulyani Indrawati – Pramono Anung. Walau kedua kemungkinan ini sangat kecil, tetapi jika benar-benar terjadi akan menjadi pilihan menarik bagi publik.
Tapi yang pasti, sejauh ini, Megawati masih akan menjadi pesaing kuat bagi siapa saja Capres lainnya. Semangat dan mental pemenang yang digenggamnya. Prediksi Tokoh Indonesia, Megawati dengan siapa pun berpasangan, paling rendah di posisi kedua. Bahkan kemungkinan akan memenangkan Pilpres 2009, jika didukung pemilihan Cawapres pendamping yang tepat.



Categories: Politik Indonesia
  1. rizal
    January 28, 2009 at 10:18 am

    gelo maneh ayeuna jadi pangamat politik….meski copy paste oge…wakakakakak

  2. July 10, 2009 at 11:42 pm

    bu mega klo jdi pres utmken dunia militer maupun semi militernya. spt skolah2 pelayaran maupun penerbangan yg stingkat akademi. ini adalah budaya semi militer sebagai para perwira cadangan dikalangan AL/AU, sjak pres RI prtma dan ke- ll. krn sya lbh ska presiden dari kalangn militer baik AU, AL, Maupun AD. Jika ibu jadi pres maka kmbalilah pmrnthan spt pada era bungkarno dan bungharto. harga yg semurah2nya mungkin. klo bisa harga rokok jarum super kmblikan Rp. 3000 prbngksnya lgi. itu baruu prsiden yg paling trbaik.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: